Presiden SBY, Jokowi dan Kegenitan Kita

Jokowi dan SBY

Percayakah anda bahwa pemimpin itu cerminan utuh yang dipimpinnya (baca: rakyat). Bila selama ini kita menyaksikan adanya pemimpin yang tak mampu berbuat apa-apa—malah kadang menjadi bagian dari masalah, maka dapat dipastikan kitalah penyebabnya. Lho?

Pengalaman bernas dan anyar hinggap pada Pak SBY, pemimpin tertinggi di negeri ini. Tentu masih hangat di benak, karena beliau Presiden kita selama delapan tahun terakhir. Sosok yang merupakan antitesa dari Ibu Mega: gagah, militer, cerdas dan kharismatik. Pada tahun 2004, rakyat, dan media, menggebu-gebu memberi harapan padanya (saya sendiri tidak, Amien Rais pilihan saat itu). Rakyat berharap Indonesia yang lebih baik: bebas dari korupsi, kemiskinan, dan kebodohan—sejajar dengan bangsa lain.

Sedikit sisa ingatan saat itu, dengan figur yang nyaris sempurna plus citra dizalimi, SBY mulus menjadi pemimpin bangsa. Meski melawan incumbent, SBY melenggang ke istana dengan mulus.

Sayangnya, kesan dizalimi tidak luntur pada diri SBY. Beliau melanjutkan hingga dua periode kepemimpinannya. Meski sebagai Presiden—pimpinan tertinggi birokrasi dan militer—SBY kerap mengeluh dan tak jarang menunjuk kesalahan pada pihak lain.

Ini khas karakter yang dipimpinnya: kita-kita ini. Kegenitan menilai kesalahan orang lain. Genit melihat sikap orang lain. Yang penting bersikap beda, meski pihak lain benar.

Coba lihat diri kita, bila berbuat khilaf, nyaris luput mengevaluasi. Yang terjadi, kita mencari kesalahan di pihak lain, yang untungnya mudah didapatkan. Mirip-mirip cerita Abunawas, meski koinnya hilang di rumah, tapi dia mencari di luar rumah. Karena lebih terang alasannya. Alhasil, koin pun tidak ketemu.

Meski lebih mudah, menimpakan kesalahan pada orang lain tentu bukan solusi. Koin ini ibarat kesalahan, kealpaan dan kekhilafan kita. Dan kadang kita salah...

Demikianlah bapak kita tercinta, Presiden SBY. Setelah dua periode pun nyaris tidak mampu berbuat banyak. Prestasi besar yang dilakukannya bagi dunia internasional seakan pupus oleh “prestasi” kader partai yang didirikannya: Demokrat.

Wah lagi-lagi mirip kita nih. Bila melihat kesalahan seseorang, hilanglah semua kebaikannya di mata kita. Nila setitik yang merusak susu sebelanga.

Saya tidak berani menuduh seganas Mochtar Lubis (baca: ciri-ciri orang Indonesia). Karena bagi saya tidak sepenuhnya benar demikian—pun juga tulisan ini.

Mutakhir, Jokowi, panggilan karib Joko Widodo, menapaktilasi kisah SBY. Dibesarkan oleh media dan mampu memenangkan hati rakyat dalam pilkada DKI Jakarta. Bersama Ahok, Jokowi sukses memenangkan pilkada DKI (meski baru putaran pertama). Ujian baru saja dimulai: kompleksitas masalah ibukota negara, godaan APBD puluhan trilyun, kemacetan, banjir, dan berbagai masalah “senior” lainnya. (Meski selama setahun di sana, saya menikmatinya. Aneh!)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah diri mereka ” (QS. 13:11)

Dan percayalah, nasib kita tidak akan berubah di tangan mereka, para pemimpin, kecuali kita sendirilah yang mengusahakannya. Nah, dengan logika seperti ini saya mau mengatakan: Bila ingin pemimpin yang baik, nasib yang baik, kehidupan yang lebih baik, maka perbaikilah diri kita terlebih dahulu. Sekecil apa pun sekarang juga. Akur?

note: 
- Kini Jokowi melangkah setingkat lagi: menjadi Presiden RI 2014-2019, dengan berlipat-lipat tanggung jawab. Puncak segala jabatan, puncak segala godaan, puncak segala ujian kini dimasukinya. Mampukah ia istiqomah?