Jogja: Sebuah Kota dengan Sejuta Kenangan

Hampir berbilang bulan blog ini tak tersentuh. Terbengkalai bukan karena lalai, lebih pada kesibukan serupa di rumah lain yang lebih mendesak dan penting. Bak developer offline, dua buah rumah online terbangun: Lanud Supadio dan MABM Kalimantan Barat. Alhamdulillah...

Diselingi dengan perjalanan keliling Jawa: Jogja-Purworejo-Bandung-Purwakarta-Jakarta, maka lengkaplah alasan untuk menelantari blog tercinta ini. Namun hikmahnya, isi blog ini dapat terisi dengan kisah tersebut.

Terlalu lama meninggalkan kebiasaan yang baik tentu bukanlah hal yang baik. Maka malam ini saya paksa jemari untuk mengetuk keyboard laptop di depan Tom Cruise dengan Minority Report-nya. Power of Kepepet pemantiknya.

Sayup-sayup di bawah, tak seperti biasanya, operator PASS cyber memilih lagu Dewa, full album—menggantikan repertoir andalannya Noah. Lagu-lagu Dewa mengajak saya untuk mengenang romantisme masa lalu—yang tak melulu indah.

Patung kaki tropis di titik nol Malioboro

Tanpa bermaksud menghubungkan romantisme yang dibangun Dewa di masa silam. Perjalanan ke Jawa seperti membuka tumpukan lembaran lama yang kadung berdebu. Arsip lama coba dicocokkan dengan kenyataan sekarang. Ada sebagian yang klop, ada beberapa yang hilang.

Jogja adalah kenangan. Entah sudah berapa juta orang yang jatuh hati pada kota ini. Saya berada di barisannya.

Empat hari di Jogja rasanya tak cukup memverifikasi mengapa saya begitu bahagia di kota ini. Meski 20 tahun lalu jejak yang ditoreh di kota ini tak selalu indah, tapi entah kenapa kesannya begitu kuat menancap.

Empat hari saya berusaha menemukan kedamaian yang dulu saya rasakan di Bantul. Nikmatnya makan mi ayam di balik tembok asrama. Mewahnya soto Bu Cip. Eksotisme penduduk Jogja, dll.

Kini Jogja telah berlari meninggalkan ‘Jogja’. Meski tak terlalu sukses. Jembatan layang menggantung megah, Sunday morning UGM berusaha menjadi duplikasi Malioboro, Macet di sana-sini... Tuntutan jaman atau tuntutan kapitalisme. Sebuah pilihan yang tak mudah bagi Jogja, kota yang terlihat abai peduli pada keduanya.

Makan diiringi grup vokal. Mungkin hanya ada di Sunday Morning UGM

Slogan Yogyakarta The City of Slow, yang diproklamirkan Kafi Kurnia awalnya sulit saya dapatkan dalam kenyataan. Ring road seakan sirkuit Assen. Motor tak kuasa bergerak pelan. “Mereka biasanya mahasiswa pendatang, luar Jogja.” Bantah teman lama yang sudah 20 tahun tak bersua. Dia ingin berucap bahwa The City of Slow bukanlah imajinasi tapi murni realiti.

Empat hari di Jogja. Dalam hati saya ingin lebih lama di sini, tapi jadwal keluarga melesatkan saya ke Bandung. Bersama istri dan anak-anak, saya menghadiri wisuda “sang pahlawan” bagi kami—hampir mirip seperti testimoni berulangkali Ardi Bakrie di TV keluarganya,—Ibunda kami,single parent sepeninggal Bapak. Saya merasa kebanggaan kami sebanding.


Huff... Rekam perjalanan yang terlalu singkat bila diwakili hanya lewat tulisan ini. Mungkin saya akan menguaknya lagi kelak. Bila ingat, bila bermanfaat...

1 komentar:

  1. jogja memang istimewa....semuanya ada di sini :
    http://sewakameraslr.blogspot.com/

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.