Mie Ayam Enak dan Lezat di Pontianak

Rasa enak tentu saja berkaitan dengan subyektifitas lidah pencicipnya. Kaitannya dengan kuliner, Mie ayam khususnya, sungguh sangat demokratis—bila dibanding Pilkada sekalipun: semakin banyak yang mampir di warung Mie Ayam itu, bisa dipastikan kuliner itu enak dan lezat. Tidak perlu verifikasi dari maestro Mak Nyus Bondan Winarno. Khawatir dipolitisir. :)

Memang melalui trik marketing, keramaian itu dapat diciptakan. Melalui voucher, undangan makan gratisan pada jam tertentu, rangkul komunitas, pseudo marketing, dll. Tapi tentu itu tidak akan bertahan lama. Biasanya hanya bertahan hitungan hari setelah buka. Pengusaha mana yang mampu mengongkosi makan ‘gratisan’ selama sebulan penuh. Kalaupun bisa, untuk apa?

-----> boleh diskip
Agak aneh memang sejarah saya harus menyukai mie ayam. Justru tidak terkait langsung dengan urusan lidah. Ini berawal dari ‘fight marketing’ antara pembeli dan penjual. Dulu, dua dekade yang lalu. Saya rasakan betul perjuangan mendapatkannya—bukan memakannya.

Saat berasrama, kita tidak dibolehkan keluar.  Nah, apa yang kami—mamang mie ayam dan saya—lakukan untuk menyiasatinya? Sungguh ini membutuhkan kedisiplinan waktu. Masa itu tentu belum ada hape, smartphone, apalagi 4lay. Mamang biasanya sudah tahu jadwal kami mandi sore, sekitar jam 4-an, sendok saktinya berdentang riang beradu dengan piring. Berhenti tepat di pintu gerbang. Siap melayani pesanan. Di sela tembok asrama mamang mengirim satu kantong plastik mie ayam, disusul dengan mangkoknya, lalu terakhir saos sambal tomat-cabe busuknya yang fenomenal. Ritual ini dipungkasi dengan makan jongkok dengan bersandar tembok. Nikmat mana lagi yang kami dustakan, saat itu. Demikianlah sejarahnya dimulai.
----->
Bumbu masakan terbaik adalah rasa lapar

mie ayam enak

Balik lagi ke mie ayam. Saya bukanlah pencinta keramaian. Bila warung mie ayamnya sudah terlalu crowded biasanya saya malah mengurungkan niat dan mencari warung mie ayam yang agak sepi—pertanda tidak enak(?). Tapi bagi saya, mie ayam first, rasa bisa dikompromikan. Uniknya, dari sinilah saya tahu warung mie ayam baru yang berpotensi laris kelak.

Keriuhan itu kini menimpa Mie Ayam Barokah. Beruntunglah, sebelum seramai sekarang saya telah menyadari potensinya saat baru dibuka dulu. Saya lupa tepatnya, mungkin lebih dari 5 tahun yang lalu saya memprediksi mie ayam ini bakal ramai. Dan benar, jubelan motor menjadi bukti. Agak susah mendapat tempat bila bersantap di sore hari.

Lidah orang Pontianak tampaknya cocok dengan taste mie ayam seperti ini.

Mie ayam yang lain, dengan rasa hampir mirip: kuah dengan bumbu dasar yang melekat, mie yang kenyal dan rasa ayam yang meresap—juga kecipratan rezeki. Warungnya ramai. Ini bisa ditemukan di mie ayam Gunung Kidul depan Masjid Jihad dan mie ayam di Pal 3 (tikungan ke arah PAL 3). Rasanya 11-12 lah. Ups, hampir kelupaan, mie ayam Panama di jalan Jawa, mie ayam di Paris 2 dan mie ayam Wonoyoso juga memiliki rasa yang sebangun. Dua lagi, yang enak karena dekat PASS computer, mie ayam dekat Yarsi dan mie ayam pak de Barokah. Murah meriah, lezat dan enak.

Mie ayam versi lainnya, versi Chinese atau mirip mie ayam Sabang Jakarta, dapat dicicip  di jalan Teuku Umar. Ada juga mie ayam Petir di Merdeka (terakhir saya lihat tutup terus).

Bila anda anggota KPK (Komunitas Pencinta Kuliner) atau ingin berbisnis mie ayam di Pontianak, karena keuntungannya lebih besar dari Bakso, referensi di atas patut menjadi pertimbangan. Atau, anda punya referensi mie ayam lain, silakan komen... kecik tapak tangan, nyiru kame tadahkan. :)