Boikot Produk Israel? Solusi atau Frustasi

Setelah menekan tuts power, laptop menyala. Tampillah simbol Windows menjadi pembuka aktifitas. Di tengah asyik menulis, anak pertama saya bergelayut di pundak. Saya mengerti isyaratnya. Tak lama saya mengaduk segelas Milo hangat untuknya.

Alhamdulillah, saya bersyukur dapat menghindarkan anak saya dari serbuan Coca Cola atau Fanta yang bergelimpangan di setiap sudut rumah, khususnya pada momen tahunan: lebaran.

Tak berjangka lama, segelas Milo telah menguap. Di sampingnya terdapat sepotong sisa ayam goreng dari restoran fast food yang digenerikkan anak saya dengan nama: Kentucky Fried Chicken.

Sesekali saya mengecilkan Windows dan menumpahkan letupan pendek di Twitter.


boikot produk buatan Yahudi Israel

Di Twitter pula, seorang dai kondang yang agak lama 'menghilang' menyerukan pemboikotan terhadap produk Israel. Sudah terlalu lama, saya melihat list produk yang menjadi tersangka tersebut. Tanpa verifikasi kebenarannya, beberapa produk kerap dihujani kecaman setiap Israel melakukan penyerangan terhadap Palestina.

Efektifitas ini tentu patut dipertanyakan, meski berwujud empati.

Saya sendiri berusaha segera mengirimkan donasi langsung ke Mer-C, lembaga sosial yang selama ini saya tahu langsung terjun ke Palestina.

Boikot itu sendiri sesungguhnya patut dipertanyakan karena pertama, apa definisi produk Israel itu? Owner-nya orang Israel atau profitnya mengalir ke Israel. Nah, di sini saya sedikit gamang dari mana band Dewa termasuk salah satu produk Israel. Kedua, rata-rata produk fast food di atas konten lokalnya besar. Belum lagi ditambah franchise fee dan SDM lokalnya. Alih-alih merugikan Israel, boikot membabi buta malah merugikan bangsa sendiri. Ketiga, Apakah kita sudah memiliki substitusi produk yang sebanding atau paling tidak mendekati kualitas yang diboikot. Ini pertanyaan menohok bila kita mengamati bahwa  selama ini kita aktif bila dalam tataran wacana. Saat diminta solusi, kita gagap menjawabnya. Ruang ini yang justru telah lama kita tinggalkan: inovasi, kreatifitas. dan produktifitas. Ruang yang diciptakan oleh Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Abdurrahman bin Auf, Ibnu Rushd, Al Farabi, dan banyak lagi tokoh action masa lalu lainnya.

Sekali lagi, saya mempertanyakan, rutinitas pemboikotan yang kita lakukan ini apakah bisa menjadi solusi dengan berkurangnya asupan finansial ke Israel atau sebagai bentuk frustasi atas ketertinggalan umat Islam selama ini?

Sekali lagi, wallahu a'lam.