Pontianak, (Bukan) Kota Kuntilanak! - Merayakan Hidup
Pontianak, (Bukan) Kota Kuntilanak!

Pontianak, (Bukan) Kota Kuntilanak!

Share This
Bila anda masih memercayai Google sebagai tempat mengadu paling ampuh, anda pasti mengamini judul tulisan ini. Hampir lima tahun lalu, saya dan beberapa teman blogger geleng-geleng kepala. Kami kaget melihat hasil pencarian tentang "Pontianak" di Google. Untuk kata kunci Pontianak, yang menempati halaman pertama hampir tak mengalami pergeseran dari dulu hingga kini. Isinya, tak jauh-jauh dari hantu (baca: Kuntilanak). Bagi kaskuser, pertamax adalah kebanggaan. Bagi online marketer, page one di Google berarti uang. Namun bagi Pontianak, halaman pertama Google adalah sebuah ketakutan.


Dengan bergiat memperbanyak posting yang positif tentang Pontianak, saya berharap akan tergesernya konten “beraroma kamboja” dari halaman pertama Google. Karena bagi Google, content is king. Tulisan ini menjadi salah satu ikhtiarnya. Nah, berikut nyala unik Pontianak yang dapat mengukir kesan di hati. Syukurlah bila ada niat berwisata atau malah, balek kampong!

WARKOP atawa Warung Kopi. Sangat mudah menemukannya di Pontianak. Terutama sepanjang jalan Gajahmada dan Tanjungpura. Kawasan ini merupakan surga kuliner. Bila ke Pontianak, sempatkan anda mengitari jalan ini di waktu malam. Meski belum dikemas secara maksimal, namun untuk wisata kuliner, di sinilah tempatnya. Dari masakan negeri Paman Sam, hingga Chinese Food tersaji. Dari restoran Padang hingga Lele Lamongan ada di sini. Seorang teman berkata, bila ingin berwisata (dan berbisnis) kuliner, Pontianaklah tempatnya!

Ups, hampir lupa, bila ingin ngopi, coba pesan Kopi Pancong, menu andalan warkop sejak dulu. Kopi yang isinya setengah gelas. Tambah Amboiii bila ditemani pisang goreng srikaya di Warkop Winny. Mertua lewatpun tak dipandang. :)

Hampir semua penduduk Pontianak, pasti pernah ngopi di warkop. Di warkoplah, demokrasi menunjukkan wujud. Siapapun bebas bicara apapun. Tak ada dusta. Tak ada amarah. Semua terbuka.

Untuk meresapi semangat Kopi Pancong. Simak lagu berikut.


SUNGAI KAPUAS, Tugu Khatulistiwa, Kraton Kadariah, Masjid Jami’ merupakat paket komplit wisata Pontianak. One stop tourism! Setengah jam dari bandara Supadio anda tiba di Sungai Kapuas. Daya pikatnya akan lebih terasa bila anda menyusurinya dengan perahu yang mangkal di Serasan. Menikmati eksotisme sungai terpanjang di Indonesia. Sungai yang dahulunya menjadi transportasi utama penduduk lokal. Kemudian sempatkan singgah ke Kraton Kadariah yang persis berhadapan dengan Masjid Jami’. Jaraknya berdekatan. Kedua tempat ini masih dipertahankan orisinalitasnya. Asal muasal Pontianak terletak di sini.


Konon, sang pendiri kota Pontianak, Syarif Abdurrahman sering dihantui kuntilanak. Untuk mengusirnya, beliau terpaksa melepaskan tembakan meriam,  sekaligus menandakan wilayah kesultanan di mana tempat meriam itu jatuh. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak, kini lebih dikenal dengan wilayah Beting Kampung Dalam Bugis.

Sayangnya lagi-lagi, ini belum “dijual” dan dikemas secara maksimal. Belum ada paket wisata yang berani menawarkan wisata sejarah menyusuri sungai Kapuas dan rehat sejenak di Tugu Khatulistiwa. Terkesan bila Sungai Kapuas masih menjadi dapur, bukan terasnya Pontianak. Setidaknya bila berkaca dari tetangga Pontianak: Kuching, Malaysia!

Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Tugu Khatulistiwa. Titik nol derajat. Setiap tanggal 21 Maret dan 23 September, bayangan tubuh akan menghilang bila tepat berdiri di titik kulminasinya. Matahari tepat berada di titik tersebut. Tugu Khatulistiwa menjadi simbolnya. Menarik bukan? Keunikan yang memang tidak hanya milik Pontianak, tapi untuk sebuah ibukota, Pontianak satu-satunya ibukota di dunia yang dilewati garis khatulistiwa. Pada beberapa tahun terakhir, peringatan kulminasi dirangkai dengan even budaya. 



Masih ada even menarik lainnya yang layak menjadi alasan bila anda ke Pontianak. Gawai Dayak, Cap Go Meh, Festival Meriam Karbit, salah tiganya. Menarik, karena benar-benar unik dengan sentuhan khas Pontianak.

Bila mau sedikit membuka mata, Pontianak sungguh mewakili gambaran bangsa: raksasa tidur! Berbenah diri dan segera bangun tentunya menjadi jawaban dini. Belum terlambat untuk memulai segalanya. Dan, akhirnya kelak, Pontianak pun menjelma menjadi kota 'bidadari', menggantikan 'kuntilanak', yang nangkring di halaman pertama Google.

3 komentar:

  1. Seandainya menjadi sebuah kenyataan, postingan ini, "http://zoelbathosai.blogspot.com/2008/03/kb1-failure.html" mungkin orang-orang sudah melihat banyak perubahan besar di Kota ini, Belanja di pasar becek tidak ada lagi semuanya sistem online shop, tinggal pencet sana-sini langsung di antar di tempat tujuan, di setiap sudut terpampang LCD Adchoices, di sekolah-sekolah tidak ada lagi penggunaan buku, semuanya tablet PC, dari SD sampai Perguruan Tinggi, Transfortasi umum gratis, karena menggunakan kereta tenaga surya, cuma di setiap jendelanya selalu ada adchoices, jadi kota kita di juluki kota iklan, hahahahahahhaha

    BalasHapus
  2. kayakny impian tersebut mulai mendekat bat. google uda mau mampir, smg sempat singgah ke pontianak. :)

    BalasHapus
  3. Salam kenal, salam persahabatan, dan salam persaudaraan. Numpang lewat gan, apa kabarnya? Ditawari kopi pancong, malah jadi ingin ngopi nih....Semoga Pontianak semakin makmur, komunitas bloggernya maju dan banyak kegiatan positif. Kalau ada waktu silahkan berkunjung ke: OBYEKTIF.COM saya tunggu ya, trims.

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.

Post Bottom Ad

Pages