Power of Kecebur; Bagi Bisnis dan Kehidupan - Merayakan Hidup
Power of Kecebur; Bagi Bisnis dan Kehidupan

Power of Kecebur; Bagi Bisnis dan Kehidupan

Share This
secangkir kisah inspirasi bisnis


Jika kau terlalu sibuk melihat masa lalumu, atau bahkan cemas terhadap masa depanmu, kau tidak akan melihatNya. Dan jika kau melupakanNya, hidup ini tak layak kau jalani...― Rumi 

Di tengah riuhnya kicauan dan rentetan status di sosial media, kadang ketidaktahuan itu lebih membahagiakan. Bagaimana tidak, dengan berondongan berita pembunuhan setiap hari; kabar selingkuh para artis sehari tiga kali; gemuruh genderang korupsi yang tiada hilirnya; kita luput membangun diri. Luput introspeksi dan evaluasi diri. Tak jarang kita hidup dan merasa harus selalu hadir di dalam agenda (sosial) media. Kita harus menjadi bagian di dalamnya. Setiap (bad) news yang muncul harus kita tanggapi. Meski sebagai seksi komentator. Di sini ketidaktahuan (atau keacuhan) begitu bernilai. Sekali lagi, saya berani mengatakan, ketidaktahuan itu membahagiakan. Sungguh.

Nah, di tengah kondisi pancaroba seperti inilah, saya selalu menikmati saat membaca kisah inspirasi, semacam Chicken Soup atau tulisan motivasi dari penulis lokal. Meski saya tahu, sang penulis juga manusia yang tak mungkin sesempurna tulisannya. Dan itu sudah saya alami berkali-kali, tak terkecuali saya sendiri.

Dulu (sekarang juga masih?) ada Cak Nun, Arvan Pradiansyah, Miranda Risang Ayu (dulu rutin di Republika), Gede Prama dan banyak lagi lainnya. Yang jadul, ada Jalaluddin Rumi, Al Ghazali, Ibn ‘Atha’illah, de es be. Ada sebuah folder khusus di laptop untuk berbagai tulisan inspiratif dari manapun, yang saya pungut sembari browsing. Tulisan yang biasanya membawa saya meng-aku.

Ini secuil kisah inspiratif yang kocak namun dalam. Hadir dan digubah dalam berbagai versi. Tapi kata kuncinya sama: power of kecebur.

Seorang konglomerat mengadakan pesta kebun untuk mencari pasangan yang cocok bagi putrinya. Seluruh tokoh masyarakat dan kolega diundang menghadiri acara tersebut. Mereka masing-masing membawa anak-anak yang beranjak dewasa.

Sebelum jamuan makan malam dimulai, sang konglomerat selaku tuan rumah menyampaikan kata sambutan perihal maksud acara yang diadakannnya. Setelah mengakhiri pidato singkatnya, dia mengajak tamu-tamunya ke kolam renang di belakang rumahnya. Dia menantang para tamunya untuk menyeberangi kolam tersebut. Bukan sembarang kolam renang tentunya. Kolam tersebut berisi puluhan buaya dan ular yang kelaparan. Konglomerat tadi menjanjikan dua opsi apabila ada pemuda yang dapat menyeberangi kolam itu. Pertama, sepertiga hartanya akan diserahkan ke pemuda tersebut. Kedua, dia akan menjodohkan putrinya lengkap dengan hak waris.

Belum sempat menutup pembicaraannya, tiba-tiba ada kelebatan seorang pemuda melompat ke dalam kolam. Dengan gerakan yang terlatih pemuda tersebut berenang ke pinggir kolam sambil menghindari buaya dan ular yang siap menghabisinya. Akhirnya, dia sampai ke pinggir kolam dengan selamat.

Dengan wajah kepayahan, pemuda tersebut berdiri dengan tubuh penuh luka. Melihat pemuda itu, alangkah girangnya hati konglomerat tadi. Dia melihat sosok calon menantu impian. Seorang pemuda ganteng, bertubuh atletis dan... berani. Dia langsung menanyakan ke pemuda tersebut pilihan apa yang diambilnya. Pemuda tadi menggeleng.

Konglomerat tadi menegaskan pertanyaannya kembali, ”Hai pemuda, Anda dengan gagah berani mengarungi kolam itu, kini sebutkan hadiah yang kamu inginkan?”

Pemuda tersebut menggeleng dan berkata dengan masygul, ”Saya hanya mau bertanya, siapa yang mendorong saya?”


Dalam hidup ini, haruskah kita didorong untuk menggapai sesuatu yang, sebenarnya, mampu kita lakukan?

Anda yang pernah dikejar, maaf, anjing di waktu kecil mungkin pernah merasakan keanehan. Ketika dikejar anjing tadi, anda mampu melompati tembok yang tingginya melebihi kemampuan lompatan Anda.

Ya, energi yang yang maha dahsyat itu tak jarang kita sembunyikan di balik sifat rendah diri, minder atau putus asa. Haruskah ada “anjing” yang mengejar atau seseorang yang mendorong sehingga kita dapat mengeluarkan energi itu?

Tapi, seringnya memang kita didorong dulu, dipaksa dahulu baru kita tahu bahwa kita mampu melakukan apapun, lebih dari yang kita bayangkan.

Dan hal ini berlaku universal, di setiap bidang kehidupan, tidak hanya di dunia bisnis. Tentu.

2 komentar:

  1. Dalam situasi kepepet --secara sadar ataupun tidak-- kita bisa melakukan hal-hal yang kadang diluar kemampuan kita. Otak dipaksa memikir lebih cepat, otot dipacu lebih keras dan pandangan difokuskan untuk terus menatap ke depan. Inilah mengapa orang dalam keadaan terdesak lebih hebat dari pada orang yang hidup dalam keadaan adem-adem saja.

    Apabila ini kita terapkan di dalam kehidupan kita, tentunya kita bisa mempercepat 'pencapaian-pencapaian' itu lebih CEPAT dari biasanya.

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.

Post Bottom Ad

Pages